Di
lihat dari perkembangan psikologisnya seperti diteorikan oleh Piaget
peserta didik SD/MI dengan rentang usia 6 s.d 12 tahun berada pada
tingkat operasi konkrit (concrete operation) dan awal dari operasi
formal (formal operation) yang ditandai dengan mulai berkembangnya
abstraksi dalam pemikiran. Dilihat dari lingkungan kehidupannya seperti
dikonsepsikan oleh Paul R. Hanna dalam model lingkup kehidupan semakin
meluas (expanding environment), peserta didik di SD/MI berada dalam
lingkup komunitas dan sosial budaya, rumah, sekolah dan lingkungan
sekitar (lingkungan desa sampai dengan lingkungan negara).
Dengan mempertimbangkan perkembangan psikologis dan lingkup interaksi sosial budaya peserta didik telah ditetapkan bahwa pelaksanaan kegiatan kurikuler di MI
dibagi dalam 2 penggalan. Penggalan pertama terdiri atas kelas-kelas
rendah (I, II dan III), dan penggal kedua terdiri atas kelas-kelas yang
lebih tinggi (IV,
V dan VI). Untuk kelas-kelas rendah kegiatan kurikuler diorganisasikan
dalam bentuk pembelajaran tematis, sedangkan untuk kelas-kelas yang
lebih tinggi diorganisasikan dalam bentuk pembelajaran berbasis mata
pelajaran.
Pembelajaran
tematis adalah bentuk pengorganisasian pembelajaran terpadu. Dalam
pembelajaran bentuk ini peserta didik belajar melalui pemahaman dan
pembiasaan perilaku yang terkait pada kehidupannya. Peserta didik belum
secara formal diperkenalkan pada mata pelajaran. Tujuan akhir dari
pembelajaran tematik adalah berkembangnya potensi peserta didik secara
alami sesuai dengan usia dan lingkungannya. Dalam pembelajaran berbasis
mata pelajaran peserta didik sudah secara formal diperkenalkan kepada
mata pelajaran yang ada dalam kurikulum SD/MI.
Bredekamp
(1992) berpandangan bahwa pada usia pendidikan dasar (6-15 tahun)
kemampuan intelektual, sosio emosional, fisik dan moral anak, berkembang
secara terpadu, sehingga proses pengembangan dalam pembelajaran harus
dilangsungkan secara terpadu. Dalam kurikulum SD/MI tahun 2004
pembelajaran terpadu untuk kelas- kelas awal (kelas 1 dan II)
menggunakan pendekatan pembelajaran tematik. Sementara itu dalam kurikulum tahun 2006 pembelajaran tematik direncanakan di kelasI, II, dan III.
Pembelajaran
tematik adalah model pembelajaran yang menggunakan tema tertentu
sebagai titik sentral pembelajaran yang mengakomodasikan berbagai
kompetensi dasar yang harus dicapai dari satu mata pelajaran atau
beberapa mata pelajaran. Pembelajaran tematik adalah aplikasi pendekatan
pembelajaran terpadu yang dikembangkan melalui suatu “tema” yang di
dalamnya terkandung kompetensi dasar dan materi yang saling berkaitan
antarmata pelajaran berdasarkan hasil analisis kompetensi dasar dari
masing- masing mata pelajaran.
Adapun
yang dimaksud pembelajaran terpadu adalah proses pembelajaran yang
mengkaitkan atau menghubungkan tema atau topik yang berkaitan dalam satu
mata pelajaran atau antarmata pelajaran pada suatu kurikulum sekolah.
Keterkaitan ini dapat terbentuk:
· keterkaitan materi dan kompetensi dasar dalam suatu mata pelajaran dengan kebutuhan/pengalaman anak dan lingkungan sosial anak.
· keterkaitan
materi dan kompetensi dasar dalam beberapa mata pelajaran dengan
kebutuhan/pengalaman anak dan lingkungan sosial anak.
Melalui sistem pembelajaran terpadu, memungkinkan siswa secara individual maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip
keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. Karakteristik model
pembelajaran terpadu adalah holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Oleh
karena itu, pembelajaran terpadu sangat diperlukan terutama untuk
Sekolah Dasar, karena pada jenjang ini siswa dalam menghayati
pengalamannya masih secara totalitas serta masih sulit menghadapi
pemilahan yang artificial (Richmond, 1977; Joni, 1996).
Secara
definitif kurikulum tematis adalah kurikulum yang menggabungkan
sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan area isi, keterampilan, dan
sikap (Wolfinger, 1994:133). Selanjutnya, Wolfinger (1994) dan Suwignyo, (1996) menjelaskan bahwa pemaduan tersebut didasarkan pada pertimbangan rasional antara lain:
1. kebanyakan masalah dan pengalaman termasuk di dalamnya pengalaman belajar bersifat interdisipliner;
2. untuk memahami, mempelajari, dan memecahkannya diperlukan multiskill
3. adanya tuntutan interaksi kolaboratif yang tinggi dalam pemecahan masalah;
4. memudahkan siswa membuat hubungan antarskematika dan transfer pemahaman antarkonteks;
5. demi efisiensi;
6. adanya tuntutan keterlibatan siswa yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran tematik terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu:
1. pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan utuh;
2. dalam
pelaksanaan pembelajaran tematik perlu mempertimbangkan antara lain
alokasi waktu setiap tema, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan
yang ada di lingkungan;
3. usahakan pilihan tema yang terdekat dengan anak;
4. lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai daripada tema (Ahman, Dkk, 2004).
Pembelajaran tematik memiliki kekuatan/keunggulan antara lain:
1. pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa;
2. menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan siswa;
3. hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna;
4. mengembangkan keterampilan berpikir siswa dengan permasalahannya yang dihadapi;
5. menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, toleransi, komunikasi dan
6. tanggap terhadap gagasan orang lain.
Hasil
studi yang dilaporkan Pappas dan Kiefer (1995) bahwa model pembelajaran
tematik sangat cocok diberikan kepada anak didik pada kelas rendah.
Pembelajaran tematik memadukan berbagai mata pelajaran dalam kurikulum
dan menghubungkannya melalui jaringan topik atau tema. Hal
ini mengandung arti bahwa pembelajaran tematik tidak hanya sebagai
kerangka bahan ajar dan konstruk penmgetahuan bagi peserta didik, namun
juga dapat dipandang sebagai alat untuk mengkaji berbagai kajian budaya
bagi anak didik usia dini.
Pada
uraian di atas ditegaskan bahwa tema dalam pembelajaran tematis
merupakan sentral kajian pembelajaran. Tema adalah pokok pikiran atau
gagasan pokok yang
menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Bagaimana peran tema
dalam pembelajaran tersebut? Peran tema dimaksudkan agar:
1. siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu;
2. siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama;
3. pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4. kompetensi berbahasa dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
5. siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6. guru
dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara
terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga
pertemuan.
B. Langkah-Langkah Pembelajaran Tematik
Setelah
kita membicarakan konsep dasar pembelajaran tematik, mari kita kaji
bersama langkah-langka pembelajaran tematik. Dalam pembahasan
langkah-langkah pembelajaran tematik ini akan dipaparkan tentang
langkah-langkah pembelajaran tematik antar mata pelajaran di SD/MI.
Secara umum langkah-langkah menyusun pembelajaran tematik antarmata pelajaran sebagai berikut.
1. mempelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran;
2. membuat/memilih tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester;
3. membuat matrik atau bagan hubungan kompetensi dasar dengan tema/topik;
4. membuat pemetaan pembelajaran tematik dalam bentuk matrik atau jaringan tema;
5. menyusun silabus berdasarkan matrik/jaringan tema pembelajaran tematik;
6. menyusun rencana pembelajaran tematik
Berdasarkan
langkah-langkah tersebut, kita mencoba menyusun rencana pembelajaran
tematik untuk siswa sekolah dasar tempat mengajar yang dituangkan dalam
silabus dan rencana pembelajaran. Perlu diperhatikan bahwa dalam
menyusun silabus hendaknya kita menciptakan berbagai kegiatan sesuai
dengan tuntutan kompetensi dan tema yang sudah ditetapkan. Jika ada
kompetensi dasar yang tidak bisa dikaitkan dalam pembelajaran tematis
hendaknya dibuat silabus tersendiri.
Pandangan lain dikemukakan oleh Dyah Sriwilujeng, (2006) yang mengajukan enam langkah tematik antarmata pelajaran di SD/MI, yakni sebagai berikut :
1. Membuat/memilih tema
2. Melakukan analisis indikator, kompetensi dasar dan hasil belajar yang sesuai dengan tema dan membagi alokasi waktu
3. Melakukan pemetaan hubungan kompetensi dasar, indikator dengan tema
4. Membuat pengelompokkan jaringan indikator
5. Melakukan penyusunan silabus
6. Menyusun Rencana Pembelajaran
Baiklah! mari kita bahas langkah-langkah tersebut secara lebih rinci.
1. Membuat/memilih tema
Menurut
Dyah Sriwilujeng, ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan
dalam pembuatan tema yang akan dikembangkan di Sekolah Dasar kelas
rendah yaitu sebagai berikut :
a. tema yang dikembangkan tidak terlalu luas namun dapat dengan mudah dipergunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran;
b. bermakna, yang mengandung arti bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya;
c. tema yang dikembangkan harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak
d. tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak di sekolah
e. tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
f. mempertimbangkan kurikulum yang berlaku dan harapan masyarakat terhadap hasil belajar siswa
g. mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
Perhatikan pula bahwa tema drumuskan oleh guru dan pilihan tema hendaknya yang terdekat dengan anak.
Contoh tema Kelas 1 semester 1 :
· diri sendiri;
· keluarga;
· lingkungan;
Semester 2:
· pengalaman;
· kegemaran;
· kebersihan, kesehatan, dan keamanan.
2. Melakukan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikator yang disesuaikan dengan tema dan alokasi waktu.
Kegiatan
untuk melakukan analisis standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator dan hasil belajar yang sesuai dengan tema dan alokasi waktu
dapat diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah. Dengan demikian kegiatan
ini tidak perlu dilakukan secara tersendiri, tetapi dapat dilaksanakan
bersamaan dengan penentuan jaringan indikator.
Standar
kompetensi adalah standar kemampuan yang harus dikuasai untuk
menunjukkan bahwa hasil mempelajari mata pelajaran tertentu berupa
penguasaan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu telah
dicapai. Sedangkan kompetensi dasar adalah kemampuan atau kompetensi
minimal dalam mata pelajaran yang harus dimiliki oleh lulusan atau
kemampuan minimal yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa
dari standar komptensi untuk suatu mata pelajaran.
Contoh Standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator mata pelajaran PKn kelas I SD/MI.
Standar Kompetensi: Kemampuan memahami identitas diri dan keluarga dalam rangka berinteraksi di lingkungan rumah
Kompetensi Dasar
|
Hasil Belajar
|
Indikator
|
1. Kemampuan menunjukkan identitas diri
|
1. Mengetahui nama, alamat, nama orang tua, dan jumlah anggota keluarga
|
· Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan
· Menyebutkan nama ayah dan ibu atau wali
· Menyebutkan alamat tempat tinggal
· Menyebutkan anggota keluarga yang tinggal di rumah
|
2. Menceritakan perilaku kasih sayang dalam keluarga
|
· Menceritakan kasih sayang Ibu dan Ayah kepada anak
· Menceritakan hubungan kasih sayang antar-anggota keluarga
| |
2. Kemampuan mewujudkan hidup rukun dalam kemajemukan keluarga
|
1. Mengetahui manfaat hidup rukun dalam kemajemukan keluarga
|
· Memberi contoh kemajemukan dalam keluarga
· Menjelaskan manfat hidup rukun dalam keluarga
· Mengidentifikasi hidup dan tidak rukun
· Menceritakan akibat jika tidak menjaga kerukunan
|
2. Membiasakan hidup rukun dalam kemaje- mukan keluarga
|
· Menunjukkan sikap saling menghargai perbedaan dalam lingkungan keluarga
· Menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan perlakuan dalam keluarga
| |
3. Kemampuan mengingat peristiwa yang dialami
|
1. Menguraikan peristiwa yang pernah dialami
|
· Menyebutkan peristiwa yang pernah dialami
· Menceritakan peristiwa menyenangkan yang pernah dialami sendiri
|
2. Menguraikan peristiwa masa kecil berdasarkan cerita orang tua /orang lain
|
· Menceritakan kembali hal-hal yang pernah dialami berdasarkan cerita orang tua/ orang lain
· Menyebutkan peristiwa yang terjadi di lingkungan
· keluarga berdasarkan cerita orang tua/ orang lain
| |
4. Kemampuan menjelaskan lingkungan rumah sehat
|
1. Menyebutkan fungsi ruang dalam rumah
|
· Mengidentifikasi ruang dalam rumah
· Menceritakan tentang fungsi dari setiap ruang
|
2. Membiasakan kerapian dan kebersih-an rumah
|
· Menyebutkan ciri-ciri rumah sehat
· Menceritakan perilaku dalam menjaga kebersihan
| |
5. Kemampuanmemahami kegiatan jual beli
|
1. Menyebutkan tempat kegiatan jual beli
|
· Mengidentifikasi warung, toko, dan pasar
· Menyebutkan barang kebutuhan sehari-hari
|
2. Menyebutkan jenis kegiatan jual beli
|
· Menceritakan kegiatan jual beli
· Menyebutkan barang-barang yang diperjualbelikan
|
Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar kelas 1 mata pelajaran PKn dalam Standar Isi (2006):
Semester 1
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
1. Menerapkan hidup rukun dalam perbedaan
|
1. Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama, dan suku bangsa
2. Memberikan contoh hidup rukun melalui kegiatan di rumah dan di sekolah
3. Menerapkan hidup rukun di rumah dan di sekolah
|
2. Membiasakan tertib di rumah dan di sekolah
|
1. Menjelaskan pentingnya tata tertib di rumah dan di sekolah
2. Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah
|
Semester 2
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
1. Menerapkan hak anak di rumah dan di sekolah
|
1. Menjelaskan hak anak untuk bermain, belajar dengan gembira dan didengar pendapatnya
2. Melaksanakan hak anak di rumah dan di sekolah
|
2. Menerapkan kewajiban anak di rumah dan di sekolah
|
1. Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah
2. Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat
|
Pada
kurikulum 2004, mata pelajaran PKn bergabung dengan ilmu pengetahuan
sosial sehingga namanya disingkat PKPS. Dalam kurikulum untuk
persekolahan (2006) yang disusun oleh BSNP, mata pelajaran PKn terpisah
dari IPS dan menjadi mata pelajaran tersendiri. Untuk kelas I – III
menggunakan pendekatan pembelajaran tematik, sedangkan kelas IV – VI
menggunakan pendekatan mata pelajaran. Dengan demikian, kita sebagai
guru yang mengajarkan PKn di kelas I – III dapat
merumuskan tema-tema PKn yang disesuaikan dan dikaitkan dengan
tema-tema mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia, IPS, Matematika,
IPA dan sebagainya.
3. Melakukan pemetaan hubungan kompetensi dasar, indikator dengan tema (yang telah dibuat ).
Ada beberapa hal yang mesti dilakukan guru yaitu:
a. Mengidentifikasi
semua indikator dan kompetensi dasar dari semua mata pelajaran (Agama,
Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan
Sosial, Kertakes, Pendidikan Jasmani).
b. Memasukkan hasil identifikasi ke dalam format (tabel) hubungan indikator dan kompetensi dasar ke dalam tema yang relevan.
c. Jika
ada indikator dan kompetensi dasar yang tidak bisa dimasukkan ke dalam
suatu tema, maka indikator dan kompetensi dasar tersebut dibuatkan atau
dicarikan tema khusus dan disajikan tersendiri, baik oleh guru kelas
maupun oleh guru mata pelajaran (terutama indikator dan kompetensi dasar
Agama dan Pendidikan Jasmani)
4. Membuat pengelompokan jaringan indikator
Dalam langkah ini guru memasukkan semua indikator yang telah diidentifikasi ke dalam jaringan indikator.
5. Melakukan penyusunan silabus
Bentuk
silabus yang digunakan guru bersifat fleksibel. Guru dapat menggunakan
bentuk format ke samping (matrik) atau bentuk deskripsi (urutan ke
bawah). Pemilihan bentuk silabus didasarkan pada tingkat kemudahan penggunaannya, keterbacaannya bagi guru serta efektifitas dan efisiensinya.
6. Menyusun Rencana Pembelajaran
Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan kegiatan
guru secara individu yang terdistribusi dalam rencana pembelajaran
harian. Rencana Pembelajaran ini dapat memuat beberapa kali pertemuan
(Misalnya RPP dibuat per minggu yang di dalamnya ada pertemuan 1, 2, 3
sampai pertemuan ke 6). Atau diserahkan kepada guru sesuai dengan
kondisi, karakteristik, kemampuan siswa yang dihadapi sehari-hari.
C. Model Pembelajaran PKn MI Kelas Rendah
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran atau
materi pokok yang terkait secara harmonis untuk memberikan pengalaman
belajar yang bermakna kepada siswa. Yang dipadukan di sini adalah materi
atau bahan ajar sebagai upaya agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna
bagi siswa. Pengembangan materi ini hendaknya disesuaikan dengan
kedalaman dan keluasan materi pada kurikulum.
Materi dalam kurikulum
dapat dikembangkan dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa,
kesesuaian materi dengan lingkungan, atau kebutuhan lingkungan setempat.
Pengembangan materi ini dapat dilakukan antara lain dengan membuat
jaringan topik/tema, membuat bagan arus kegiatan, dan mengembangkan
jaringan lintas kurikulum.
Dilihat dari cara memadukan konsep/materi, keterampilan, topik, dan unit tematiknya, terdapat sepuluh model atau cara merencanakan pembelajaran terpadu
yaitu 1) fragmented; 2) connected; 3) nested; 4) sequented; 5) shared;
6) webbing; 7) threated; 8) integrated; 9) immersed; dan 10) networked
(Robin Fogarty (1991). Dari kesepuluh cara tersebut ada beberapa cara
atau model yang dapat dan sering digunakan dalam pembelajaran di Sekolah
dasar yaitu antara lain webbed, connected, dan integrated. Diantara
ketiga model tersebut, yang paling cocok diterapkan dalam pembelajaran
di sekolah dasar kelas rendah adalah model Webbed. Mengapa demikian? karena pada
tahap ini siswa pada umumnya masih melihat segala sesuatu sebagai satu
keutuhan, perkembangan fisiknya tidak bisa dipisahkan dengan
perkembangan mental, sosial, dan emosional. Atas dasar pertimbangan
tersebut, maka pengembangan model pembelajaran yang akan diuraikan di
sini adalah model webbed. Sedangkan model connected dan integrated hanya
akan dibahas sepintas untuk membedakan dengan model webbed.
1. Model Webbed
Model “webbed” sering disebut jaring laba-laba, adalah model pembelajaran
yang dipergunakan untuk mengajarkan tema tertentu yang berkecendrungan
dapat disampaikan melalui beberapa mata pelajaran. Tema dalam model ini
dapat dijadikan pengikat kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran
tertentu maupun lintas mata pelajaran. Oleh karena itu, model ini pada
dasarnya merupakan bentuk perpaduan yang bertolak dari pendekatan
tematis inter atau antarmata pelajaran dalam mengintegrasikan bahan dan
kegiatan pembelajaran. Tema sebagai sentral dijadikan sebagai landas
tumpu penyampaian isi pembelajaran interdisipliner maupun
antardisipliner.
Memahami
dan memilih tema esensial yang memiliki keterkaitan materi yang dapat
dipadukan. Sebenarnya bagi guru sekolah dasar (terutama guru kelas)
tidak akan banyak menemui kendala karena sudah terbiasa mengajar
berbagai mata pelajaran sehingga sudah paham betul tentang butir-butir
materi setiap mata pelajaran. Pemahaman kita tentang butir-butir setiap
mata pelajaran tentu saja akan memudahkan dalam membuat tema yang bisa
dipadukan dan dikaji dari beberapa mata pelajaran.
Sekali
lagi dalam model webbed, tema dapat dijadikan sebagai pengikat
pembelajaran dalam satu mata pelajaran atau antarmata pelajaran. Model
yang dikembangkan dalam kurikulum 2006 adalah pembelajaran tematis
antarmata pelajaran dengan tumpuannya mata pelajaran bahasa Indonesia
karena siswa kelas awal (khususnya kelas 1) masih belajar membaca dan
menulis. Pada kesempatan ini paduan
antarmata pelajaran akan mengambil tema yang berasal dari mata
pelajaran PKPS khususnya materi Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam
kurikulum 2004 pembelajaran tematis dipergunakan untuk kelas I dan II,
namun dalam kurikulum 2006 untuk kelas I, II, dan III.
Setelah
kita menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan, kemudian
pelajarilah kompetensi dasar dan indikator pada kelas dan semester yang
sama dari setiap mata pelajaran. Setelah itu buatlah tema untuk
mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan
semester, dan buatlah jaringan kompetensi dasar/ indikator yang
menggambarkan hubungan dengan tema. Contoh
tema mata pelajaran atau materi PKn yang bisa dihubungkan dengan mata
pelajaran lain diantaranya hidup hemat, bangga bertanah air Indonesia,
hidup tertib/disiplin, dan kemajemukan.
Seandainya kita mengambil tema ”bangga bertanah air Indonesia”, maka dapat dikembangkan jaringan indikatornya seperti berikut.
Gambar/
matrik di atas menunjukkan contoh hubungan tema dari mata pelajaran PKn
dengan indikator-indikator mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika,
IPA, Kertakes, dan PKn. Hal ini tidak berarti tema tersebut tidak
berhubungan dengan mata pelajaran lain seperti Agama, pengetahuan sosial
(materi geografi), dan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, kita
sebagai guru kelas dipersilakan untuk mengembangkan hubungan tema
tersebut dengan jaringan indikator mata pelajaran lainnya.
Setelah membuat jaringan Indikator, kemudian
buatlah pemetaan pembelajaran tematik dalam bentuk jaringan tema model
jaring laba-laba (webbed) sesuai dengan jaringan indikator tersebut di
atas.
Matrik di atas menggambarkan jaringan tema Bangga bertanah air Indonesia dengan sub tema (anak tema) mata pelajaran lain. Kode
”A” yaitu cerita pendek tentang alam atau peristiwa alam Indonesia
merupakan anak tema yang diambil dari mata pelajaran bahasa Indonesia.
Anak tema tersebut dibagi menjadi beberapa anak tema diantaranya
menyimak dan membuat cerita pendek tentang peristiwa alam yang pernah
terjadi di daerahnya.
Kode
”B” yaitu menjumlah merupakan anak tema yang diambil dari mata
pelajaran matematika yang kemudian dapat dibagi menjadi beberapa anak
tema diantaranya menjumlah peristiwa alam di daerahnya seperti longsor
atau gunung meletus yang pembelajarannya diarahkan kepada kesadaran
menjaga kelestarian lingkungan.
Kode
“C” yaitu baca Dalil merupakan tema mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam (PAI), yang memiliki anak tema diantaranya menjelaskan makna
setelah menghafal dalil (Mahfudhat). Target dari belajar ini agar anak
tahu bahwa agama juga mengajarkan cinta tanah Air.
Kode
”C” yaitu pencemaran merupakan anak tema yang diambil dari mata
pelajaran IPA, yang kemudian memiliki anak tema faktor penyebab dan
dampak pencemaran lingkungan yang dapat mengakibatkan kerugian bagi
manusia dan lingkungan alam sekitar. Dalam hal ini target hasil
belajarnya adalah kesadaran untuk mencintai lingkungan alam di daerahnya
seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencemari hutan, dan
sebagainya.
Kode”
D” yaitu karya seni rupa merupakan anak tema mata pelajaran kerajinan
tangan dan kesenian, yang memiliki anak tema diantaranya membuat lukisan
keindahan alam Indonesia dan membuat kolase yang dikembangkan dari
obyek dan bahan di alam sekitar.
Terakhir
kode ”E” yaitu cinta tanah air merupakan anak tema yang diambil dari
mata pelajaran PKn dengan harapan siswa memiliki sikap dan perilaku
cinta dan bangga terhadap kekayaan dan keindahan alam Indonesia.
Dalam
mengimplementasikan model pembelajaran tematik ini ada beberapa tahapan
kegiatan yang mesti dilakukan guru yaitu tahap perencanaan,
Pelaksanaan, dan Penilaian. Tahap perencanaan meliputi langkah-langkah
perencanaan pembelajaran terpadu sebagaimana telah diuraikan di atas
atau kegiatan belajar 1 yaitu: menetapkan pembelajaran yang akan
dipadukan, mempelajari kompetensi dasar setiap mata pelajaran;
membuat/memilih tema; membuat matrik atau bagan hubungan kompetensi dasar dengan tema/topik; membuat pemetaan pembelajaran tematik dalam bentuk matrik atau jaringan tema; menyusun silabus, dan menyusun rencana pembelajaran tematik.
Tahap
pelaksanaan merupakan kegiatan guru dalam membelajarkan siswa dengan
menggunakan pendekatan, metode, dan pola pembelajaran tertentu yang
dapat dipilah menjadi kegiatan persiapan, pembukaan, kegiatan inti, dan
penutup. Tahap penilaian merupakan kegiatan guru untuk menilai proses
dan hasil belajar siswa yang meliputi prosedur, jenis, bentuk, dan alat
penilaian. Kegiatan guru dalam tahap pelaksanaan dan penilaian biasanya
sudah dirumuskan secara rinci dalam Rencana Pembelajaran dan silabus
terlebih dahulu.
Dengan
merujuk pada kurikulum 2004, banyak guru atau kelompok guru yang
mengembangkan tema-tema pembelajaran yang mengambil tema utamanya dari
mata pelajaran lain (bukan dari mata pelajaran PKn). Tema-tema antarmata
pelajaran yang dikembangkan untuk kelas 1 antara lain diri sendiri; keluarga; lingkungan; pengalaman; kegemaran; dan kebersihan, kesehatan, dan keamanan.
Kita sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran PKn dapat juga membuat tema yang diambil dari konsep-konsep PKn seperti tertib/disiplin, hak dan kewajiban anak, dan hidp hemat. Dapat juga tema yang sudah ada kemudian dimodifikasi dari konsep- konsep PKn seperti tema ”lingkungan” dimodifikasi jadi ”rukun dalam kemajemukan” (Bhinneka Tunggal Ika), tema ”keluarga” menjadi ”kasih sayang”, dan sebagainya. Tema- tema PKn tersebut kemudian dipadukan dengan mata pelajaran lain.
Selain
dipadukan dengan mata pelajaran lain, Anda dapat membuat jaringan laba-
laba tersebut dalam intra mata pelajaran PKn. Misalnya tema hak dan
kewajiban anak dapat dilihat kewajiban terhadap diri sendiri, hak
dan kewajiban di rumah, di sekolah, dan lingkungan masyarakat. Tema
disiplin bisa dilihat dari disiplin diri sendiri, di rumah, sekolah, dan
masyarakat. Tema kasih sayang (kurikulum 2004) bisa dikembangkan
melalui jaring laba-laba yang meliputi sikap sayang terhadap diri
sendiri (seperti mandi, makan, gosok giri), sayang terhadap anggota
keluarga ( ayah, ibu, kakak, adik,) sayang terhadap warga sekolah (guru, teman) dan sayang terhadap masyarakat sekitar (teman, orang lebih tua).
Ketika
kita mempelajari kegiatan belajar 1 modul ini, telah disinggung bahwa
tema dalam pembelajaran tematik memiliki peran antara lain memudahkan
siswa memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, dan guru dapat
menghemat waktu. Sebagai
contoh mari kita lihat dalam kurikulum PKn (2006) kelas III semester 1
terdapat dua standar kompetensi yang salah satunya dirumuskan dalam kalimat “Melaksanakan norma yang berlaku di masyarakat”. Dari standar kompetensi tersebut dirinci menjadi 3 kompetensi dasar yaitu:
1) mengenal aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar;
2) menyebutkan contoh aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat;
3) melaksanakan aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat
Ketiga kompetensi dasar tersebut dapat diikat dalam satu tema misalnya ”norma masyarakat”. Dari
tema tersebut kemudian dirumuskan anak tema, dan dari anak tema dapat
dibuat anak tema lagi. Persoalannya, bagaimana merumuskan anak tema?
dalam suatu norma selalu ada muatan langsung atau tidak langsung tentang
hak dan kewajiban individu dari norma tersebut. Misalnya aturan tidak
boleh merokok, maka ada kewajiban individu untuk tidak merokok dan
sekaligus hak individu menikmati udara bersih.
Selanjutnya
dilihat dari ruang lingkupnya, muatan materi mata pelajaran PKn
meliputi antara lain kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya,
sehingga tema di atas dapat dilihat dari bidang-bidang kehidupan
tersebut.
Berdasarkan argumentasi tersebut, tema
norma masyarakat bisa dibagi menjadi anak tema norma dalam kehidupan
politik, kehidupan sosial, kehidupan budaya, dan kehidupan ekonomi.
Masing-masing norma bidang kehidupan tersebut meliputi hak dan
kewajiban. Jika divisualkan dapat dirumuskan dalam jaringan tema/topik di bawah ini.
Dari
sub-sub tema hak dan kewajiban dari setiap bidang kehidupan dapat
dirinci menjadi sikap dan perbuatan. Misalnya kewajiban dalam bidang
politik dalam kehidupan masyarakat yaitu menghargai pendapat orang lain, menerima perbedaan pendapat,
dan sebagainya. Hak bidang politik misalnya hak dihargai pendapatnya,
hak untuk menentukan pilihan dalam pemilihan ketua kelas atau ketua
kelompok diskusi. Demikian pula dalam bidang lain dapat dirinci seperti
dalam bidang politik. Dipersilakan untuk Anda mengembangkannya sesuai
dengan tingkat perkembangan anak.
Tema
di atas merupakan upaya menanamkan sikap dan perilaku disiplin/tertib
siswa dalam kehidupan sehari-hari untuk menggiring siswa menjadi anggota
keluarga dan masyarakat, warga sekolah dan warga negara yang baik (Good
Citizenship). Pembentukan warga negara yang baik merupakan tujuan dari
mata pelajaran PKn.
Langkah-langkah yang ditempuh:
1. Guru menyiapkan tema utama dan tema lain yang telah dipilih dari beberapa standar kompetensi lintas mata pelajaran/bidang studi.
2. Guru menyiapkan tema-tema yang telah terpilih.
3. Guru menjelaskan tema-tema yang terkait sehingga materinya lebih luas.
4. Guru
memilih konsep atau informasi yang dapat mendorong belajar siswa dengan
pertimbangan lain yang memang sesuai dengan prinsip-prinsip
pembelajaran terpadu.
2. Model Connected
Langkah yang ditempuh dalam pembelajaran ini:
1. Guru menentukan tema-tema yang dipilih dari silabus.
2. Guru mencari tema yang hampir sama/relefan dengan tema-tema yang lain.
3. Tema-tema tersebut diorganisasikan pada tema induk.
4. Guru menjelaskan materi yang terdiri dari beberapa tema diatas.
5. Guru mengadakan tanya jawab tentang materi yang diajarkan.
6. Dengan bimbingan guru siswa membuat kelompok kecil.
7. Dengan bimbingan guru pada siswa di minta untuk mengerjakan tugas kelompok dari guru.
8. Guru
memberikan kesimpulan, penegasan,evaluasi secara tertulis dan sebagai
alat tindak lanjut guru menugaskan pada siswa untuk menyusun portofolio
dan dikumpulkan minggu depan.
Model
connected (berhubungan) dilandasi anggapan bahwa butir-butir
pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu.
Misalnya butir-butir pembelajaran ideologi Pancasila, hukum, dan
ketatanegaraan atau materi tentang hak dan kewajiban, ketertiban,
demokrasi dapat dipayungkan pada mata pelajaran PKn. Dalam model ini
guru perlu menata butir-butir pembelajaran dan proses pembelajaran
secara tematis, karena pembentukan pemahaman, keterampilan dan
pengalaman secara utuh tidak berlangsung secara otomatis.
Berdasarkan
uraian di atas, maka matrik 3 merupakan contoh model connected dalam
mata pelajaran PKn, selain juga merupakan model webbed.
3. Model Integrated
Sejumlah
tema (topik) pembelajaran dari mata pelajaran yang berbeda tetapi
esensinya sama dalam sebuah tema /topik tertentu. Model ini berangkat
dari adanya tumpang tindih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang
dituntut dalam pembelajaran sehingga perlu adanya pengintegrasian multi
didiplin. Dalam model ini butir-butir pembelajaran perlu ditata
sedemikian rupa hingga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai
butir pembelajaran dari berbagai mata pelajaran berbeda. Oleh karena itu
perlu adanya tema sentral dalam pemecahan suatu masalah yang dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu.
Langkah-langkah pembelajaran terpadu.
1. Guru menentukan salah satu tema dari mata pelajaran PKn yang akan dipadukan dengan tema-tema pada matapelajaran lain.
2. Guru
mencari tema-tema dari mata pelajaran lain yang memiliki makna yang
sama.guru memadukan tema-tema dari beberapa mata pelajaran yang dikemas
menjadi satu tema besar.
3. Guru menyusun RPP yang terdiri dari gabungan konsep-konsep berupa matapelajarn.
4. Guru menentukan alokasi waktu karena untuk pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu lebih dari satu kali pertemuan.
mata kuliah : PKN
dosen : Dirgantara wicaksono, M.Pd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar